Belajar dari Gunungkidul, Barito Utara Tertarik Kebijakan Utamakan Produk Lokal

oleh -203 Dilihat

AspirasiRakyat.Id, Barito Utara– Kunjungan kaji tiru Pemerintah Kabupaten Barito Utara berlanjut ke Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memasuki hari kedua, rombongan menggali berbagai kebijakan dan inovasi yang diterapkan Gunungkidul, termasuk strategi memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pemanfaatan produk lokal.

Kunjungan kerja tersebut berlangsung pada Selasa (5/8/2026). Rombongan dipimpin langsung Bupati Barito Utara H. Shalahuddin, didampingi Wakil Bupati Felix Soenadi Y. Tingan, Sekretaris Daerah Muhlis, jajaran kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), tokoh agama, serta undangan terkait.

Kedatangan rombongan disambut Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Gunungkidul di wilayah yang dikenal dengan sebutan Bumi Handayani tersebut.

Dalam sambutannya, Shalahuddin menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan Pemkab Gunungkidul. Ia menegaskan, kegiatan kaji tiru bukan bertujuan menyalin seluruh kebijakan daerah yang dikunjungi, melainkan menggali pengalaman yang dapat menjadi bahan pembelajaran.

“Hasil kaji tiru ini tidak semata-mata untuk meniru secara utuh, melainkan menjadi bahan pembelajaran yang akan kami sesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan kemampuan Pemerintah Kabupaten Barito Utara,” ujar Shalahuddin.

Menurutnya, pertukaran pengalaman antardaerah menjadi penting untuk membuka perspektif baru dalam penyelenggaraan pemerintahan. Berbagai kebijakan yang dinilai relevan nantinya dapat dikaji untuk melihat kemungkinan penerapannya di Barito Utara.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyambut baik kunjungan Pemkab Barito Utara. Ia bahkan menyoroti keunikan rombongan yang dalam kunjungan tersebut turut didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Barito Utara.

Dalam kesempatan itu, Endah memaparkan sejumlah kebijakan lokal yang diterapkan Gunungkidul untuk memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus menjaga lingkungan. Salah satunya dengan mendorong penggunaan pangan lokal dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah.

“Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melarang penyajian makanan dan minuman berbahan dasar gandum seperti roti dalam kegiatan resmi kedinasan guna memprioritaskan hasil pertanian lokal seperti olahan singkong, ubi, jagung, porang, kacang, hingga hasil laut,” terang Endah.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk keberpihakan pemerintah terhadap produk masyarakat lokal. Dengan mengutamakan hasil pertanian dan pangan daerah, pemerintah tidak hanya menjaga keberlanjutan produk lokal, tetapi juga ikut membuka ruang bagi petani dan pelaku usaha untuk meningkatkan perekonomian.

Tidak hanya makanan, Gunungkidul juga mendorong penggunaan buah-buahan lokal dalam setiap jamuan resmi pemerintah. Buah impor digantikan dengan berbagai hasil perkebunan masyarakat setempat.

“Selain itu, kami juga tidak mengizinkan penyajian buah-buahan impor dalam jamuan resmi. Kami menggantinya dengan buah lokal hasil tani setempat seperti pisang raja, sawo, dan jambu,” kata Endah.

Kebijakan ramah lingkungan juga diterapkan dalam kegiatan kedinasan. Penggunaan karangan bunga berbahan styrofoam mulai ditinggalkan dan digantikan dengan tanaman hidup maupun sayuran yang lebih bermanfaat dan ramah lingkungan.

Pertukaran pengalaman dalam kunjungan tersebut tidak hanya membahas pangan lokal dan lingkungan. Kedua pemerintah daerah turut berdiskusi mengenai berbagai sektor strategis, mulai dari pembangunan infrastruktur, pengawasan berbasis digital, pemberdayaan UMKM, tata kelola pendidikan, hingga penanggulangan kemiskinan ekstrem dan percepatan penurunan stunting.

“Kami berharap pengalaman yang diperoleh dari Gunungkidul dapat menjadi inspirasi bagi Barito Utara untuk menghadirkan kebijakan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah,” ujar Shalahuddin.

Kunjungan kaji tiru tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu melahirkan gagasan dan terobosan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

“Yang kita bangun melalui kegiatan ini bukan hanya pertukaran program, tetapi juga persaudaraan dan semangat bersama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya. (Red/Jia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.